Selasa, 26 Oktober 2010

Program Bimbngan dan Konseling yang komprehensif


PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING YANG KOMPREHENSIF: SEBUAH EVOLUSI DARI PROSES AKUNTABILITAS (PERTANGGUNG-JAWABAN)

Oleh: Muliadi





PENGANTAR

Saat ini isu tentang akuntabilitas merupakan isu yang hangat dibicarakan pada dialog atau diskusi profesional. Pada bidang Bimbingan dan Konseling kebutuhan-kebutuhan tentang akuntabilitas sangat diperlukan. Konselor sekolah bekerja dalam kerangka kerja dari suatu program BK yang komprehensif secara meningkat akan diminta untuk menunjukkan bahwa pekerjaannya memberikan kontribusi pada kesuksesan siswa, khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. Namun tidak hanya itu, konselor sekolah juga diminta untuk menunjukkan bagaimana mereka membuat sebuah perbedaan dalam kehidupan siswa. Berkaitan dengan hal tersebut ada suatu pertanyaan yang perlu kita renungkan yaitu “Apakah fokus pada akuntabilitas merupakan suatu fenomena baru atau profesi kita selalu memperhatikan perihal asesmen yang berefek pada kerja konselor di sekolah?” Dalam makalah ini pertanyaan tersebut akan dijawab dengan merunut evolusi dari akuntabilitas dilihat dari kacamata literatur profesional. Dalam hal ini kita mencoba merunut evolusi akuntabilitas dari tahun 1920 sampai tahun 2003. Pada tahun-tahun tersebut kita akan melihat secara garis besar bukti-bukti perhatian tentang adanya akuntabilitas keseluruhan program BK dan dampaknya terhadap kehidupan siswa. 

PERHATIAN DAN REKOMENDASI MENGENAI AKUNTABILITAS

a.      Tahun 1920

Sebelum tahun 1920 pekerjaan paraprofesional difokuskan pada membangun/mendirikan  BK (yang kemudian disebut sebagai Bimbingan vokasional) di sekolah-sekolah. Kemajuan cepat yang membuat kemajuan ini dibawa ke dalam tahun 1920.  Pada tahun tersebut bagaimanapun perhatian yang berkaitan dengan akuntabilitas mulai dinyatakan oleh Payne (1924) dalam sebuah literatur yang menyatakan
What method do we have checking the results of our guidance?For particular groups was it guidance, misguidance, or merely contributing experience?We simply must work out some definite method of testing and checking the results of our work……(p.63)
                        Selain itu pada tahun yang sama Edgerton dan Herr (1924) juga menggambarkan usaha-usaha dari distrik-distrik (daerah) sekolah dalam 143 kota diseberang AS untuk menyediakan pengorganisasian pendidikan dan bimbingan vokasional dalam sistem sekolah mereka masing-masing. Mereka tidak menggambarkan berbagai studi yang dilakukan untuk mengases dampak dari kegiatan yang mereka lakukan, tetapi mengidentifikasi beberapa hasil (outcomes) yang mereka pikir telah dicapai.
Kebanyakan pekerjaan pada akuntabilitas dalam tahun 1920 difokuskan pada membangun standar untuk menilai baik atau tidaknya kelengkapan sebuah program BK. Myers (1926) mengidentifikasi ada 4 standar yang dibuat yaitu: kelengkapan seperti yang diukur oleh sejumlah kegiatan BK, penekanan distribusi seperti yang ditunjukkan oleh waktu masing-masing aktivitas, kecermatan (keterperincian)  yang ditunjukkan oleh macam dan kualitas dari penyelesaian suatu pekerjaan dan konsistensi organisasi. Sedangkan Later Edgerton (1929) menyajikan data yang mengindikasikan bahwa program bimbingan vokasional perlu berisikan 7 aktivitas bimbingan agar bisa disebut sebagai suatu program yang lengkap.

b.     Tahun 1930

Pada tahun 1930 kerja difokuskan pada kerja yang telah dibuat oleh Myers (1926) dan Edgerton (1929)  untuk membuat standar dalam menilai kegiatan BK. Kebutuhan untuk mengembangkan standar-standar untuk menilai suatu kelengkapan sebuah program yang dibuat oleh karena luasnya kegiatan yang dilaksankan dibawah kejayaan BK saat ini. Ketika kerja dilanjutkan pada pendirian standar-standar untuk mengukur kelengkapan program BK, beberapa penulis mulai menyatakan kebutuhan untuk memfokuskan pada hasil. Alasan mengapa difokuskan pada hasil disebabkan sejumlah penulis mulai mengidentifikasi apa yang mereka rasakan dari hasil yang diinginkan pada program BK. Misalnya hasil yang dikemukakan oleh Cristy, Stewart, and Rosecrance (1930), Hinderman (1930) dan Rosecrance (1930) mengidentifikasi sejumlah hasil yang dicapai seperti; berkurangnya siswa yang DO dari sekolah, meningkatnya moral dalam diri siswa, berkurangnya kegagalan dan siswa-siswa yang menarik diri, dsb.
 Penulis lain membawa hasil-hasil tersebut untuk memulai menggali apa yang mungkin dilibatkan dalam mengukur hasil. Alstetter (1938) menyatakan bahwa tiada program dalam sekolah yang lebih sulit untuk dievaluasi dibanding mengevaluasi layanan bimbingan. Terakhir Becker (1937) mendaftar sejumlah kriteria yang dapat digunakan untuk menilai keefektifan bimbingan. Selain itu ia juga mengindentifikasi sejumlah cara yang dapat diukur untuk beberapa kriteria ini.

c.      Tahun 1940

Sebuah literatur tahun 1940 dilanjutkan untuk menekankan kebutuhan dalam mengevaluasi bimbingan. Pada tahun tersebut terdapat isu pelatihan macam apa yang diperlukan oleh para konselor sekolah untuk meningkatkan perhatian. Jager (1948) menunjukkan bahwa sedikit atau tiada macam pelatihan dalam mengevaluasi program BK yang dapat ditemukan dalam literatur. Ia mengindikasikan bahwa pelatihan seperti itu dalam evaluasi seharusnya diambil 2 bentuk yaitu programnya sebagai suatu keseluruhan (kekomprehensifan program) dan dari teknik-teknik, staf serta administrasi yang mengoperasikan program tersebut dan hasil dari program tersebut dapat dibuktikan dalam diri konselee.
Suatu dokumen yang menampakkan adanya evaluasi ditulis oleh Frolich (1949). Ia mereview dan mengklasifikasi 173 kajian menurut sistem berikut:
1.      Kriteria eksternal?
2.      Tindak lanjut, apa yang terjadi kemudian?metode
3.      Pendapat klien, apa yang anda pikirkan?metode
4.      Pendapat ahli, metode “Infomasi Tolong”
5.      Teknik-teknik spesifik, metode-metode kecil
6.      Perubahan dalam kelompok, sebelum dan sesudah metode
7.      Perubahan antar kelompok, apa yang berbeda?metode

Dalam rangkumannya Frolich (1949) bahwa ia perhatian mengenai ketiadaan kriteria evaluasi dan kebutuhan akan metode yang dapat diterima dalam standar penelitian tetapi juga bisa digunakan oleh praktisi. Kemudian di tahun 1940an Wrenn (1947) mengatakan untuk kebutuhan akan evaluasi pada personel layanan.

d.     Tahun 1950

Tahun 1950 kebutuhan akan evaluasi pada program BK di sekolah semakin meningkat. Kebutuhan akan evaluasi ini lebih difokuskan dan ditekankan untuk mendirikan suatu kriteria yang lebih baik dalam mengukur hasil-hasil bimbingan di sekolah.  Kegiatan BK di tahun 1950 direview selama 3 periode oleh Review of educational research. Wagner, Arbuckle & Carnes (1951) mencatat bahwa terdapat peningkatan dalam jumlah kajian dari bimbingan lebih dari 3 tahun dari periode yang mereka review dan fokus studi ini adalah dibatasi pada bagia-bagian spesifik dari bimbingan. Mereke menekankan kebutuhan untuk mengevaluasi keseluruhan program. Selanjutnya McDaniel (1954) mereview selama 3 tahun tersebut penelitian menujukkan pada aspek proses program BK dan lebih dari itu adalah melihat keefektifan variasi struktur organisasi bimbingan.. Terakhir Cottle (1957) melaporkan pada beberapa studi yang mengindikasikan keseluruhan program bimbingan di sekolah berdampak pada kehidupan siswa.

e.      Tahun 1960

Di tahun 1958 sebuah undang-undang Pendidikan Pertahanan Nasional (National Defensse Education Act) berubah menjadi hukum. NDEA ini memberikan dampak dan pengaruh besar pada perkembangan bidang BK. NDEA menyediakan dana untuk para supervisor bimbingan, perluasan program testing dan pelatihan individual pada konselor sekolah melalui pendidikan selama setahun atau periode. Pada tahun 1960 juga menjadi saksi munculnya gerakan akuntabilitas dalam pendidikan. Seperti halnya dalam pendidikan yang memegang pertanggungjawaban untuk hasil yang diraih, demikian juga dengan bimbingan. Hal tersbut jelas bahwa hasil dari suatu kegiatan penting bagi konselor sekolah terutama dalam tujuan bimbingan dalam mengukur dan kemudian menujukkan bagaimana sasaran bimbingan berkaitan dengan tujuan pendidikan. Selain itu menjadi jelas juga bahwa nilai dari program bimbingan yang secara meningkat dinilai didasarkan pada dampaknya terhadap siswa.
Salah satu hasil kerja dari Wellman dan koleganya adalah mengembangkan suatu model sistem untuk menandai evaluasi dengan sebuah taksonomi tujuan bimbingan yang diklasifikasikan dalam domain dari pendidikan, vokasional dan perkembangan sosial. Model ini dan berbagai aspek yang terkait dengan taksonomi dari tujuan layanan sebagai sebuah dasar untuk sejumlah model-model evaluasi yang mulai muncul di akhir tahun 1960 dan awal tahun 1970.

f.        Tahun 1970

Di awal tahun 1970 gerakan akuntabilitas lebih diintensifkan. Secara bersamaan, minat dalam pengembangan pendekatan sistematik yang komprehensif untuk pengembangan program dan mamnagemen bimbingan tetap meningkat. Pemusatan pada gerakan tersebut dalam tahun 1970 bertindak sebagai suatu stimulus untuk melanjutkan tugas yang berkaitan pengembangan bimbingan dalam mengukur hasil individual.
            McDaniel (1970) mengusulkan sebuah model untuk bimbingan yang disebut Youth Guidance System. Model tersebut mengorganisir disekitar tujuan, sasaran dan desain untuk evaluasi. Secara dekat model ini berkaitan dengan model sistem bimbingan karier yang komprehensif (Comprehensif Career Guidance System/CCGS) yang dikembangkan oleh personel pada American Institutes for Research. CCGS yang dirancang untuk secara sistematik merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi program bimbingan. Pada saat yang sama, personel pada National Center for Vocational and Technical Education merancang sebuah model perilaku (behavioral) untuk bimbingan karir yang didasarkan pada sebuah pendekatan sistem yang berfokus pada evaluasi. Kemudian Program Testing untuk Perguruan Tinggi di Amerika (1976) menciptakan River City Guidance Model yang juga menekankan evaluasi dari hasil program yang dilaksanakan.
            Sebagai tambahan pada pendekatan ini, sebuah pendekatan sistematik untuk bimbingan yang didukung dalam PLAN (Program of Learning Accordance with Needs). Bimbingan dilihat sebagai suatu komponen utama dari PLAN dan diperlakukan seperti bagian yang integral dari suatu program pengajaran reguler.
            Searah dengan usaha-usaha tersebut, suatu usaha nasional memulai untuk membantu negara dalam mengembangkan dan mengimplementasikan model-model atau panduan untuk bimbingan karier, konseling, dan penempatan. Di tahun 1971 Universitas Misouri Colombia dipercaya oleh kantor pendidikan AS untuk membantu masing-masing negara (state), distrik columbia, dan Puerto Rico dalam mengembangkan model-model dan panduan untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi program bimbingan karier, konseling dan penempatan di sekolah-sekolah lokal.
            Sebagai sebuah bagian dari bantuan yang disediakan untuk negara, staf proyek mengembangkan suatu manual untuk digunakan oleh negara ketika mereka mengembangkan panduannya sendiri. Manual tersebut menggambarkan bagaimana untuk mengembangkan, mengimplementasikan dan mengevaluasi sebuah program bimbingan yang komprehensif. Konsep program digambarkan dalam manual berdasar evaluasi, memfokuskan pada kedua proses dan hasil evaluasi. Empat pertanyaan yang diminta. Apa yang ingin kita capai? Sistem penyerahan apa yang diperlukan? Apa yang kita sediakan dan lakukan? Apa dampaknya?. Seperti sebuah gerakan yang berkenaan dengan merencanakan dan mengimplementasikan pengembangan secara sistematik dan program bimbingan yang akuntabel di awal 1970 menjadi lebih canggih, model teoritik dibangun untuk diterjemahkan kedalam sisi praktis, model-model yang dapat dikerjakan untuk diimplementasikan disekolah.
Tahun 1974 Institusi Penelitian Amerika melakukan penelitian  yang sebelumnya telah dilakukan oleh Pupil Personil Division Departemen Pendidikan Kalipornia, dan Program Penelitian Pengembangan Pemuda di Mesa Arizona , dan ditempat lain (Jones, Helliwell, & Ganschow, 1975). Penelitian ini di lakukan dalam upaya untuk merencanakan program secara bersama-sama. Penelitian ini berhasil dalam pengembangan 12 komptensi  berdasarkan pada modul pengembangan remaja sebagai pedoman program pngembangan karir K-12 secara menyeluruh. Modul 3 berjudul Assessing Desire Outcome (penilaian hasil yang diinginkan) (Dayton, n.d), difokuskan pada kebutuhan program untuk menjadi dapat dipercaya yang diawali dari hasil yang diinginkan oleh siswa .
Disamping upaya local, Negara dan nasional untuk menetapkan bimbingan sebagai sebuah program yang akuntabel , juga terdapat beberapa hasil diskusi  dalam pustaka profesi seperti dalam sebuah buku yang berjudul Research and the School Counselor, Cramer, Herr, Morris, and Frantz (1970) menyediakan 1 bab untuk pedoman evaluasi  program. Mereka menggambarkan dan memberikan tekanan kepada konselor sekolah untuk mendokumentasi dan menentukan kemajuan pelayanan mereka. Disamping itu mereka juga  menggambarkan metodologi yang memungkinkan untuk menyelesaikan tugas apakah fokus pada keseluruhan pedoman evaluasi program atau aspek tertentu dalam program (p.87).
Pada tahun 19975 Pine  dalam jurnal , Measurement and Evaluation in Guidance (volume 8, no.3, oktober, 1975) menuangkan semua isu untuk evaluasi konseling sekolah. Ia menyatakan; “dalam era akuntabilitas evaluasi konseling sekolah adalah perhatian yang paling penting kepada semua konselor tanpa memperhatikan bias teori filosofi mereka (P.136)”. Hal yang sama ditulis oleh Bardo, & Cody, Buckner, Helliwell & Jones, Lasser, dan  Miller & Grisdale (1975).
 Pine (1975) mengemukakan keriteria khusus yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menetapkan perubahan prilaku siswa yang sudah terjadi di level pendidikan dasar sebagai sebuah hasil dari yang dikembangkan dalam konseling adalah;

ü  Prestasi akademik           
ü  Mengembangkan bacaan
ü  Pengaturan pribadi         
ü  Kemerarikan sekolah  
ü  self-esteem                       
ü  Self-concept                     
ü  Peningkatan nilai rata-rata di kelas
ü  Hubungan sejawat
ü  Kehadiran (absen) sekolah
ü  self-undertanding                      
ü  hubungan guru dan murid
ü  Penurunan prilaku yang tidak baik
ü  Skor tes kemampuan dan Setting realistic goal (p.138)

Disamping itu Pine juga mengidentifikasi metode-metode yang khusus digunakan untuk mengevaluasi keefektifan program konseling sekolah menengah;
*        Rancangan Pendekatan Experimen – “after only” (hanya setelah), rancangan “before-and-after” (sebelum dan sesudah) dan rancangan “before-and-after-with-control-group design” (sebelum-dan-sesudah-dengan-kelompok-kontrol).
*        Pendekatan Tabulasi-jumlah klien, jumlah sesi konseling, ragam program yang sesungguhnya dibahas, jumlah kontak orang tua.
*        Pendekatan Follow-up
*        Pendapat ahli, metode “information-please”- sebuah evaluasi sobyektif oleh ahli.
*        Pendapat klien, metode” what-do-you-think” (apa pendapat anda) yang dibentuk oleh survey pendapat orang yang dikonseling.
*        Kriteria eksternal. Metode “do you do this” (apakah kamu mengerjakan ini)-langkah pertama adalah mengatur standar dimana program yang dievaluasi dibandingkan
*        Suvey pendapat guru, orang tua dan para pegawai
*        Pendekatan deskriptif-praktek konseling yaitu dianalisa dan digambarkan
*        Pendekatan studi kasus-sebuah pandangan yang longitudinal (membujur) terhadap setiap klien.
Tahun 1978 Campbell, Herr, dan Mitchell (1978) menulis dalam New Imperative for Guidance. Mereka menekankan pentingnya kebutuhan  akuntabilitas bimbigan. Campbel menggambarkan bahwa secara sederhana bimbingan memerlukan tidak cukup sebuah program bimbingan. karena pembuat keputusan memerlukan dokumentasi hasil. Dia memfokuskan perhatian pada isu research menguji kebutuhan untuk penelitian dan bagaimana bentuk penelitian yang berbasis akuntabilitas. Mitchell (1978) menekankan pentingnya pemerioritasan hasil siswa berdasarkan kebutuhannya.. Dalam diskusi tentang   pedoman evaluasi dia membuat observasi menarik berkenaan dengan sifat dasar siswa.
Studi evaluasi bukan memerlukan  penyelidikan yang mendalam, berorientasi ilmiah, penuh dengan hitungan statistic. Dengan kata  lain, mereka semestinya merupakan sesuatu yang lebih dari pada “warm puppy studies” (semangat cinta remaja). Warm puppy studies fokus kepada bagaimana program menyenangkan setiap orang, dan sejauhmana mereka menyukainya. Seperti program belajar untuk membantu   penuntusan ego yang kurang matang, apakah sedikit untuk identifikasi kekuatan dan kelemahan program, atau saran kearah perubahan dalam meningkatkan efektifitas  (p.127).
  Pada pertengahan tahun 1970-an, College Entrance Examination Board (1978) mengembangkan program Assessment keterampilan karir. John Krumbolgtz mengemukakan modul yang berisikan enam hal penting antara lain; sebuah booklet latihan, self-scorable dan mesin yang dapat menskor lembar jawaban, dan petunjuk self-instructional; 
ü  Self-evaluation dan perkembangan keterampilan
ü  Career awareness skills
ü  Career decision-making skills
ü  Keteampilan mencari pekerja
ü  Keterampilan bekerja efektif
ü  Anggota keterampilan ekonomi
Dalam program Assesment keterampilan karir (College Entrance Examination Board, 1978), seksi IV menggambarkan berbagai kegunaan instrument termasuk merancang evaluasi dan penelitian terhadap program bimbingan karir. Pont utama yaitu beberapa perangkat evaluasi yang ada untuk mengukur prestasi siswa dalam instrument harus dapat menilai keefektifan program baik evaluasi formative dan sumatif. 

g.      Tahun 1980-an.

Tahun 1980-an, perhatian terhadap akuntabilitas semakin meningkat. Karena anggaran penerimaan potongan pajak dari pemerintah federal, Negara, level local, dengan tema umum konselor sekolah tetap berlangsung tergantung kepada akuntabilitas (Hayden & Pohlmann, 1981; Shay, 1981; Wiggins, 1981). Shay mengutif Thurow Tahun (1980) yang mengatakan bahwa “tema untuk tahun 1980-an akan menjadi; penekanan semua, yang banyak disuarakan (p.74).
 Sebagai hasil dari kondisi ini sejumlah artikel menulis tentang kebutuhan akuntabilitas dalam bimbingan dan kekurangan pekerjaan yang dilakukan untuk membuat program yang akuntabel. (Froehle & Fuqua, 1981; Wilson & Rotter, 1982; Wilson, 1985). Beberapa penulis lain sepanjang tahun 1980 memberikan ide-ide tentang bagaimana program evaluasi dilakukan (Lewis, 1983; Lombana, 1985; Pine, 1981; Wheeler & Loesch, 1981). Fairchild dan Zins (1986) melaporkan dalam survey nasional terhadap praktek akuntabilitas. Dari 239 respondent (239 diluar dari 500), 55 persen terindikasi mengumpulkan data akuntabilitas. Sisanya menyatakan kurang pengetahuan terhadap prosedur akuntabilitas dan waktu adalah permasalahan utama bagi mereka.
Tahun 1981. Departemen pendidikan California menerbitkan Guidline for Developing Comprehensive Guidance Programs in California Public School: Kindergarten Through Adult School. Dalam dokumen evaluasi formative dan sumative ini digambarkan penggunaan produk data, proses data, dan konteks data. Dalam dokumen tersebut menyatakan bahwa evaluasi formative menjawab pertanyaan ”bagaimana kita melakukannya” sedangkan sumative menjawab pertanyaan ”bagaimana pekerjaan yang telah kita lakukan.

h.     Tahun 1990-an

Penelitian tentang pengaruh yang kuat terhadap dampak bimbngan dan konseling tidak seperti awal tahun 1990-an. Lee dan Workman (1992) menyatakan dibandingkan dengan profesi lain conseling sekolah memiliki bukti empiris kurang signifikan untuk mendukung pengakuan bahwa ia memiliki pengaruh yang kuat dalam perkembangan seorang anak kecil dan orang dewasa”(p.15). Fairchild (1993) menyatakan bahwa sejak survey bersama Zins (1986) dimana pertamakali membangun akuntabilitas kerja konselor sudah ada peningkatran, hanya saja masih ada praktisi lain yang tidak mengumpulkan akuntabilitas data. Sejak tahun 1990 telah dideskripsikan cara-cara kerja dengan program evaluasi bimbingan sekolah. Johnson dan Whitfield (1991) menyampaikan sebuah rencana  untuk mengevaluasi program bimbingan sekolah. Kalimat pembuka dalam pendahuluan monograf mereka menyatakan bahwa ”evaluasi adalah suatu bagian integral dari keseluruhan setiap program dan ketika dipertimbangkan sepanjang penetapan pengembangan program, jelas meyakinkan, tujuan-tujuan yang dapat diukur”.
Gysbers, Hughey, Starr, dan Lapan (1992) menggambarkan seluruh kerangka kerja yang membimbing pekerjaan Missouri untuk mengevaluasi keseluruhan program bimbingan konseling sekolah. Dua dari lima pertanyaan yang membimbing proses evaluasi difokuskan pada pengukuran kemampuan siswa menguasai kompetensi bimbingan dan pengaruhnya terhadap program dalam iklim dan tujuan-tujuan sekolah. 
Pada priode yang sama Borders dan Drury (1992) mendeskripsikan komponen program yang efektif. Salah satu komponen adalah evaluasi program. Di dalam komponen ini disarankan bahwa ”rencana evaluasi semestinya fokus pada hasil seperti metode-metode lain yang dapat digunakan untuk memenuhi tugas.
Selanjutnya dalam dekade 1990, Whiston (1996) menguraikan sejumlah pendekatan penelitian yang dapat digunakan diberbagai setting termasuk setting sekolah. Dia menguraikan bahwa konselor sekolah yang berhadapan dengan tekanan akuntabilitas, karena itu perlu lebih aktive dalam melaksanakan penelitian. Selanjutnya pada tahun 1998, Whiston dan Sexton (1998) menyampaikan sebuah ihtisar hasil penelitian konseling sekolah yang dipublikasi antara tahun 1988 dan 1995. Mereka menyatakan ”dalam era akuntabilitas konselor sekolah terus meningkatkan  pemberian  informasi kepada orang tua, adiministrator, dan legislative terutama untuk efektifitas kegiatan konseling sekolah.

i.        Tahun 2000

Penekanan terhadap akuntabilitas dimulai pada tahu 1920  yang selanjutnya diperbaharui Vigor pada awal dekade abad 21. Trevisan dan Hubert (2001) menyatakan kembali statement yang dibuat selama 20 tahun mengenai pentingnya evaluasi program dan mendapatkan  akuntabilitas data mengenai hasil siswa. Foster, Watson, Meeks, and Young (2002) juga menyatakan kembali kebutuhan  untuk akuntabilitas konselor sekolah dan menawarkan rancangan penelitian single-subject sebagai sebuah cara untuk menunjukkan efektivitas. Lapan (2001) menekankan pentingnya kelseluruhan program bimbingan dan konseling ”dikonsep sebagai hasil yang berdasarkan sistem” (p.289). dalam artikel nya, dia mendeskripsikan kerangka kerja untuk perencanaan dan evaluasi program bimbingan. Hughes dan James (2001) mencatat pentingnya penggunaan akuntabilitas data berbasis tim managemen dan personel sekolah yang lain.  Disamping itu, artikel oleh Myrick (2003), Johnson and Johnson (2003), dan Dahir & Stone (2003) pada Februari 2003 isu frofesi konseling sekolah semuanya ditekankan kepada kebutuhan untuk akuntability.

KAJIAN EMPIRIK

Selama 80 tahun pembahasan tentang pentingnya akuntabilitas bimbingan dan konseling, pertanyaannya adalah, apakah sudah ada studi empiris yang dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh bembingan dan konseling terhadap siswa? ”Jawabannya ya”. Studi-studi seperti ini dibentuk dalam 2 bentuk yaitu; mengevaluasi pengaruh layanan bimbingan dan konseling terhadap aktivitas tertentu, dan mengevaluasi pengharuh keseluruhan program bimbingan dan konseling. Kedua jenis evaluasi ini penting.

a.      Kefauver dan Hand.

Pada musim gugur tahun 1934, Kefauver dan Hand (1941) melakukan sebuah studi yang melibatkan siswa SMP selama 3 tahun periode, didukung oleh seorang ahli dari Carnegie Fondation for the Advancement of Teaching. Untuk studi ini dipilih dua orang siswa SMP dari OAKLAND, California, dan dua orang siswa SMA dari  Pasadena, California. Siswa-siswa memasuki kelas 7 pada musim gugur 1934 sebagai subjek. Salah satu sekolah di setiap kota dipilih sebagai sekolah ekperimen sedangkan yang kedua dipilih sebagai sekolah kontrol. 6 tes dan 2 inventory dikembangkan oleh Kevauver dan Hand diatur menjadi kelompok eksperimen dan kontrol pada awal dan akhir studi.
Studi empiris terpilih yang mengevaluasi pengaruh terhadap bimbingan dan konseling
Peneliti
Tahun
Tipe Penelitian
Temuan Utama
Cantoni
1954
Longitudinal eksperimental / penelitian kontrol, mahasiswa
Mengikuti data yang mengindikasikan kelompok eksperimen memiliki pengaturan yang jelas lebih baik dalam
o  Prestasi pendidikan
o  Level jabatan
o  Stabilitas emosional.
Welman & Moore
1975
Eksperimental/penelitian kontrol, SD
Kelompok eksperimental memiliki prestasi akademik yang lebih baik
Lapan, Gysbers, & Sun
1997
Membandingkan mahasiswa dengan bimbingan yang lebih dan kurang
Mahasiswa dengan bimbingan lebih dilaporkan:
o      Mereka memperoleh  tingkatan yang lebih tinggi
o      Pendidikan mereka lebih baik untuk mempersiapkan masa depan mereka
o      Sekolah mereka memiliki iklim yang lebih positive
Nelson, Gardner, & Fox
1998
Membandingkan mahasiswa sekolah tinggi dengan program bimbingan penuh dan program bimbingan yang kurang.
Mahasiswa sekolah tinggi dengan bimbingan penuh dapat dilaporkan;
·      Memperoleh kemajuan dalam pembelajaran matematika dan sains
·      Memperoleh pembelajaran yang lebih vokasional/teknikal.
·      Mendapatkan skor ACT yang lebih tinggi pada setiap tes skala
Lapan, Gysber, & Petroski
2001
Membandingkan siswa sekolah menengah dengan program bimbingan penuh dan program bimbingan yang kurang.
Siswa sekolah menengah dengan bimbingan penuh dapat dilaporkan;
·      Mereka mendapatkan peringkat yang lebih tinggi
·      Sekolah menjadi semakin relevan
·      Mereka memiliki hubungan yang positive dengan guru
·      Mereka mendapatkan kepuasan terhadap pendidikan mereka
·      Mereka merasa aman di sekolah
Sink & Stroh
2003
Membandingkan siswa SD antara yang diberikan program konseling yang susun dengan baik dan luas dengan siswa yang tidak diberikan program konseling secara luas
Siswa SD (kelas 3 dan 4) didaftar disekolah dengan sebuah program konseling yang memproduksi skor tes prestasi yang lebih tinggi pada keterampilan dasar di Iowa Tes – format M dan Washington Assessment terhadap proses belajar siswa.

Apakah temuan penelitian ini? Kefauver dan Hand (1841) melaporkan bahwa  yang sedikit lebih kecil pengaruhnya  terdapat pada kecenderungan sekolah melakukan  eksperimen dalam menyediakan pendidikan, rekreasi, dan  bimbingan informasi social. Keuntungan yang lebih besar pengaruhnya tercatat dalam informasi bimbingan kesehatan. Bahkan yang paling lebih besar pengaruhnya tercatat dalam pemberian informasi bimbingan keterampilan vokasi (kejuruan) dan informasi terhadap bimbingan yang tidak benar. Yang menjadi perhatian khusus sekarang ini yaitu pada “siswa yang khusus menjadi sekolah eksperimental yang memperoleh mean skor (nilai rata-rata) tertinggi dalam tes prestasi Stanford yang dikerjakan oleh siswa 1) dalam menguhubungkan control situasi, 2) atau mereka yang telah menyelesaikan 2 – 3 periode eksperimental selama siswa masih dalam sesi laporan studi diselenggarakan.

b.     Rithney and Roens

Studi lainnya terhadap bimbingan di sekolah mulai tahun 1936 – 1937 di Arlington, Massachusetts (Rothney & Roens, 1950). Membagi Kelas VIII menjadi satu kelompok bimbingan (eksperimental) dan kelompok tanpa bimbingan (control). Pada awalnya terdapat 129 siswa pada setiap kelompok. Kelompok eksperimen menerima bantuan dari konselor sedangkan kelompok control menerima bantuan selain dari bantuan rutin dalam memilih pembelajaran dan membuat perencanaan pendidikan dan jurusan yang sudah ada sebelumnya.
Perbandingan antara 2 kelompok dibuat pada akhir pendidikan SMA (Juni 1941). Terdapat 81 orang siswa dalam kelompok bimbingan dan 90 siswa bukan kelompok bimbingan pada akhir tahun ajaran Juni 1941. Perbandingan dilakukan terhadap beberapa criteria berikut ini; droup out, tidak lulus pada pelajaran, tidak naik tingkat,,tamat (sebuah perkiraan terhadap prestasi sekolah) dan surat pengakuan untuk masuk perguran tinggi. Temuan-temuan adalah barikut ini:
1.      Droup out dalam dua kelompok kurang lebih sama. Bimbingan tidak memiliki pengaruh pada retensi siswa
2.      Tingkat kegagalan mata pelajaran dan jumlah rata-rata lebih cepat berkurang pada kelompok bimbingan daripada kelompok tanpa bimbingan
3.      Tingkat kegagalan kelas tertinggi dikelompok tanpa bimbingan di kelas 10, pada tahun pertama di SMA. Hal ini  dapat menjadi alasan untuk mengasumsikan bahwa rendah tingkat dalam kelompok bimbingan adalah sebagian dari hasil bimbingan.
4.      Nilai rata-rata scholastic kelompok bimbingan lebih tinggi dari kelompok bukan bimbingan berdasarkan hitungan statistic berada pada margin reliable.
5.      Secara signifikan lebih banyak persetase perolehan kelompok bimbingan dari pada kelompok bukan bimbingan sudah diakui untuk lembaga yang lebih tinggi proses pembelajarannya.

c.      Rothney

Studi yang utama pada tahun 1950 berkenaan dengan pengaruh bimbingan di sekolah  di Wisconsin. Hasil ini dikenal sebagai studi Konseling Wisconsin (Rothney, 1958). Studin ini telah dipublikasikan dalam buku Guidance Practice and Result. Sebanak 870 mahasiswa tingkat II dari empat komunitas di Wiscounsin ditempatkan di kelompok eksperimen dan control. 
Semenjak subyek control dan eksperimen dihadirkan disekolah yang sama di kota yang sama. Muncul pertanyaan tentang kontaminasi. Rothney (1958); kemungkinan itu bisa terjadi tetapi memberikan fakta bahwa ini adalah setting alami yang tidak dapat dielakkan. Ia menyatakan bahwa dia pernah mengobservasi seorang anak laki-laki dalam kelompok eksperimen control perempuan sedangkan tidak berada dalam acara darmawisata sore dan dapat diasumsikan akan menghasilkan beberapa kontaminasi.
Pada hari wisuda pada bulan Juni 1951 terdapat 690 wisudawan. Tiga follow up diberikan: 1) 6 bulan setelah tamat sekolah tinggi, 2) 2 dan setengah tahun setelah kelulusan, 3) 5 tahun setelah kelulusan  pada tahun 1956. 100 persen siswa (685) menjadi partisipan diakhir follow up. Berikut ini temuan studi yang menonjol pada siswa yang menerima konseling
1.      Memperoleh nilai akademik yang tinggi pada saat sekolah di pendidikan tinggi.
2.      Indikasi lebih realism terhadap kekuatan dan kelemahan diri pada saat mereka lulus dari sekolah tinggi
3.      Sedikit ketidakpuasan terhadap pengalaman pada sekolah tinggi
4.      Memiliki perbedaan aspirasi jurusan
5.      Lebih konsisten dalam pernyataan, memasuki dan menetapkan pilihan jurusan. 
6.      Lebih maju dalam pekerjaan selama periode 5 tahun mengikuti kelulusan sekolah tinggi
7.      Lebih menyukai masuk ke pendidikan yang lebih tinggi untuk merencanakan kelanjutan pendidikan berikutnya.
8.      Puas dengan hasil akhir pendidikan mereka
9.      Menyatakan kepuasan selama dalam status pendidikan 5 tahun dan pengalaman ahir pendidikan mereka
10.  Berpartisipasi dalam aktivitas pengembangan diri setelah menyelesaian pendidikan tinggi
11.  Melihat kebelakang lebih baik terhadap konseling yang diperoleh. (Rothney, 1985, p.479-480)

Rothey (1950) menawarkan kesimpulan penelitian berikut ini:
Terdapat banyak perbedaan dalam petunjuk yang dihipotesis oleh pembimbing memperoleh di bawah refresentasi kondisi konseling sekolah di SMA , hal tersebut mungkin seperti perbedaan yang besar akan muncul jika konseling dilakukan dalam kondisi ideal. Kondisi seperti itu tampaknya membutuhkan banyak pengecualian dalam konseling sebagai sebuah bagian regular dari pengalaman SMP, dukungan antusias oleh orang tua dan personel sekolah, teknik evaluasi yang lebih baik (pp.482 – 483)

AKUNTABILITAS ADALAH SEBUAH TANGGUNG JAWAB SECARA TERUS MENERUS

Mengapa selama ini  akuntabiitas  menjadi topic yang diperhatikan ?. Sekarang ini  salah satu pemikiran bahwa topik ini tidak memerlukan perhatian professional yang agak lama, karena  kajian empirik menunjukkan bimbingan dan konseling membuat perbedaan di dalam hidup siswa.  Akuntabilitas adalah sebuah tangung jawab yang terus menerus terhadap profesi di level nasional, Negara dan level local.
Jika demikian  bagaimana teknik dan metode  akuntabilitas  terdahulu yang dapat dilakukan sekarang,  karena bagaimanapun juga harus ada tema-tema dominan  yang muncul secara konsisten  dalam kepustakaan akuntabilitas sebelum akuntabilitas itu dicapai.  Tema-tema yang dimaksud antara lain ;

Tema pertama;     berkenaan dengan minsdset dimana setiap individu memiliki keadaan yangn akuntabel. Sehingga beberapa diantaranya terlihat sebagai sebuah ancaman. Di pustaka jelas dikatakan bahwa akuntability penting disingkirkan dari pobia akuntability. Untuk membuat minsdset yang akuntabel  adalah need assesmen dalam program bimbingan dan konseling.
Tema kedua;         berfokus pada pekerjaan bimbingan dan koseling di sekolah. Jika sebuah pertanyaan muncul dimana pentingya hasil difokuskan.  Hasil bimbingan dan konseling ada pada kepustakaan tahun 1930-an. Disini disampaikan pakah hasil review pustaka dapat berlaku sekarang seperti sebelumnya?.
Tema ke tiga:        Membicarakan akuntabilitas tidak sekedar sebuah ucapan, tetapi perlu perlakuan. Sekarang saatnya para konselor dan pimpinan disemua level  untuk bertindak dalam menghadapi tantangan akuntabilitas. Mari kita gunakan kebijakan terdahulu untuk menyapa tantangan akuntabilitas hari ini dan lusa.
  

IMPLEMENTASI TERHADAP PROGRAM BK DI INDONESIA

            Sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang implementasi uraian diatas dengan situasi dan kondisi di indonesia, maka sebagai awal akan dibahas sedikit mengenai evolusi program BK yang ada di Indonesia. Jika kita melihat betapa panjangnya perkembangan proses akuntabilitas BK di negara barat, lalu bagaimana dengan di Indonesia?
            Di Indonesia BK mulai diperkenalkan di sekolah sekitar tahun 1962 setelah pejabat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) menginstruksikan dibentuknya layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah menengah sekembalinya beberapa pejabat kementrian P & K mengadakan peninjauan di AS. Pada waktu itu penetapan kriteria tugas konselor (guru BP/BK/GC) tidak jelas dan sangat lebar, mulai dari peran semacam “polisi sekolah” sampai dengan konversi hasil ujian untuk seluruh siswa di suatu sekolah menjadi skor standar. Baru pada tahun 1975 layanan BK masuk dalam kurikulum (yang dikenal dengan Kurikulum 1975). Dalam kurikulum tersebut layanan Bk sebagai salah satu dari layanan dalam wilayah sistem persekolahan mulai dari jenjang SD sampai SMA. Tahun 1976 ketentuan layanan BK juga masuk dalam sistem persekolahan untuk jenjang SMK, namun seiring berjalannya waktu layanan BK di SMK kurang di follow-up oleh para kepala SMK. Selain itu juga penyelenggaraan BK di jenjang SD juga tidak berjalan sesuai dengan harapan karena memang belum ada konselor yang diangkat di SD kecuali mungkin di sekolah swasta tertentu. Walaupun undang-undang belum memberikan ruang gerak yang jelas bagi layanan BK, namun karena didorong keinginan kuat untuk memperkokoh profesi ini maka didirikanlah Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). IPBI ini adalah wadah profesi konselor/bimbingan yang bertugas di lapangan.
            Tahun 1994 dengan diberlakukan kurikulum 1994, mulai ada ruang gerak bagi layanan ahli BK dalam sistem persekolahan di Indonesia karena salah satu ketentuannya mewajibkan tiap sekolah menyediakan 1 konselor untuk setiap 150 peserta didik (kegiatan BK baru terealisasi pada jenjang pendidikan menengah). Dengan adanya ketentuan tersebut maka kebutuhan akan konselor di sekolah semakin meningkat. Meskipun begitu di lapangan lulusan S1 BK masih sangat minim apalagi ditambah kebijakan Ditjen Dikti untuk menciutkan jumlah S1 BK di seluruh tanah air. Dampaknya adalah sekolah-sekolah mengalih tugaskan guru-guru yang bisa dilepas (dispensable) untuk mengemban tugas meenyelenggarakan pelayanan BK setelah dilatih melalui Crash Program dan lulusannya disebut Guru Pembimbing.
            Pada tahun 2003 diberlakukan UU no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebut adanya jabatan konselor pada pasal 1 ayat (6). Namun pada pasal berikutnya tidak ditemukan kelanjutan mengenai jabatan konselor pun. Hal ini membuat banyak salah tafsir terutama tentang tugas dan peran konselor di sekolah. Dalam UU tersebut tercantum bahwa konselor adalah pendidik, karena tidak terdapat penjelasan lebih lanjut maka secara awam ditafsirkan tugas konselor sama juga dengan tugas guru. Sampai pada UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pun juga belum ditemukan tentang konteks tugas dan ekspektansi kinerja konselor. Baru pada tahun 2007 Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN d/h IPBI) menyusun rujukan dasar bagi penyelenggaraan layanan BK khususnya bagi jalur pendidikan formal. Dengan rujukan tersebut kegiatan layanan BK di Indonesia mulai di tata kembali dalam penyelenggaraannya sesuai rambu-rambu yang tercantum pada rujukan tersebut. Selain itu muncul pula Permendiknas nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Dengan demikian secara yuridis jabatan konselor sebagai suatu profesi dapat dipertaruhkan dan dapat diminta pertanggungjawabanya terutama pada penyelenggaraannya di jalur pendidikan formal.
            Dari uraian singkat mengenai perkembangan BK di Indonesia dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa secara historis layanan BK di Indonesia juga menempuh jalur panjang dalam meneguhkan eksistensinya sebagai salah satu layanan profesional di masyarakat. Selain itu yang perlu dicermati adalah dengan adanya pasang-surut penyelenggaraan layanan BK di Indonesia memberikan indikasi bahwa masalah akuntabilitas masih sangat perlu untuk digarap secara serius agar layanan tersebut dapat tampil benar-benar secara profesional.
Akuntabilitas layanan terwujud dalam kejelasan program, proses implementasi, dan hasil-hasil yang dicapai serta informasi yang dapat menjelaskan apa dan mengapa sesuatu proses dan hasil terjadi atau tidak terjadi. Ada hal yang sangat penting di dalam akuntabilitas yaitu informasi yang terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan/atau kegagalan peserta didik di dalam mencapai kompetensi.  
            Sebagai pengejawantahan akuntabilitas layanan BK khususnya di jalur pendidikan formal, maka perlu adanya penyusunan program BK yang jelas dan didasarkan pada kebutuhan penggunanya (khususnya peserta didik) serta mengacu juga pada hasil evaluasi layanan BK yang telah diselenggarakan. Hal tersebut juga mengandung arti bahwa konselor perlu menguasai dan memiliki kemampuan dalam pendataan (sekaligus selalu meperhatikan up date data) karena dari data tersebut dijadikan dasar dalam penyelenggaran BK. Hal lain dari penerapan akuntabilitas ini adalah operasionalisasi (proses) implementasi dari program yang telah dibuat dan hasil-hasil apa yang telah dicapai. Dari hasil yang dicapai maka perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui efektif tidaknya suatu program dibuat.
            Seperti yang telah dilakukan di negara barat, evaluasi sebagai sebagai salah satu dasar pengembangan suatu program. Demi terwujudnya suatu program yang berkualitas dan efektif serta akuntabel, perlu diinformasikan hasil-hasil yang telah dicapai dalam suatu program. Selain itu sangat penting sebagai bahan pendukung dari suatu program maka diadakan riset agar dapat diketahui dampak maupun keefektifannnya. Sebagai suatu profesi yang akuntabel, konselor di sekolah melakukan riset terhadap layanan BK yang telah diselenggarakannya sekaligus melaporkan dan mendokumentasikan hasil risetnya. Pelaporan atau sebagai ganti dari kata “menginformasikan” memiliki nilai dan efek yang besar terhadap adanya suatu program BK di sekolah. Hal ini dapat memberikan bukti bahwa ada manfaat yang dapat diambil dari suatu program yang dilakukan. Selain itu juga sebagai bahan perbandingan antara program satu dengan lainnya. Dengan demikian, baik para personel di sekolah, orang tua maupun masyarakat mengetahui dan menilai dengan sendirinya dampak dari suatu program khususnya bagi pengembangan peserta didik.
            Sebagai bahan pemikiran, akuntabilitas adalah suatu proses tanggungjawab yang tidak pernah berhenti. “Accountability is An Ongoing Responsibility” adalah suatu kalimat yang rasanya semua profesi selalu memperhatikan dan terinternalisasi pada masing-masing pribadi penyandang profesi tersebut. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa akuntabilitas bukan merupakan ancaman bagi seseorang yang profesional namun lebih sebagai suatu kewajiban yang perlu dipelihara, dilaksanakan dan ditingkatkan dari waktu ke waktu. Dengan demikian konselor tidak hanya berbicara dan berefleksi tentang apa yang telah ia lakukan namun juga lebih banyak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat dipertanggungjawabkan demi kemaslahatan penggunanya.
  Berangkat dari bagaimana pemenuhan kebutuhan akuntabilitas bimbingan dan konseling, konselor sekolah dituntut untuk meningkatkan profesionalitas terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling yang memandirikan. Dalam hal ini, konselor sekolah perlu melakukan kegiatan penelitian dan penilaian dalam rangka bimbingan dan konseling di sekolah. Ini dimaksudkan untuk menelaah program layanan bimbingan dan konseling yang telah dan sedang dilaksanakan untuk mengembangkan dan memperbaiki program bimbingan khususnya program bimbingan di sekolah yang bersangkutan. Dengan demikian memungkinkan program bimbingan berfungsi lebih efektif.
Program bimbingan dan konseling dapat dilakukan dengan berbagai cara dan kegiatan, diantaranya ; survey sekolah, studi lanjut, dan penilaian terhadap program bimbingan.

a.      Survey sekolah

Survey sekolah merupakan usaha untuk mengenal keadaan sesungguhnya secara keseluruhan sebagaimana adanya. Hal ini sangat berfungsi untuk menentukan kegitan sekolah dalam rangka memperbaiki hal-hal yang tidak cocok dengan kebutuhan konseli, melengkapi kebutuhan yang belum dipenuhi, dan memperbaiki hubungan antara unsur-unsur yang mendukung kegitan bimbingan. Survey sekolah dapat dipusatkan kepada penelaahan mengenai keadaan murid, administrasi sekolah, dan fasilitas sekolah. Survey sekolah dapat dilakukan dengan hal-hal berikut;
1)       Menyusun gambaran menyeluruh mengenai keadaan jumlah siswa asuh berdasarkan tingkat klas, umur, jenis kelamin,agama, latar belakang keluarga , setatus social ekonomi dan lain sebaginya.
2)       Menyusun gambaran  manyeluruh mengenai keadaan siswa asuh  berdasarkan  kesanggupan, bakat, hasil belajar, minat, dan data lain yang diperoleh dari penyelenggaraan program test.
3)       Mengidetifikasi siswa asuh yang mempunyai kesulitan khusus.
4)       Menelaah tahap-tahap kegunaan program dan kegiatan yang telah dilakukan untuk kebutuhan konseli.

b.     Studi lanjut

Studi lanjut merupakan usaha untuk menelaah hasil pelayanan yang pernah dilakukan oleh konselor sekolah kepada konseli baik itu melalui penelaahan terhadap konseli yang telah selesai melaksankan tugas pembelajarannya, melanjutkan studi atau yang masuk kedunia kerja, dan penelaahan terhadap konseli yang telah selesai mendapat layanan khusus.
Dengan melakukan kegiatan studi lanjut  pihak sekolah dalam hal ini konselor sekolah akan menerima umpan balik  mengenai 1) informasi tentang jenis-jenis kesempatan pekerjaan pendidikan dan latihan yang tersedia dalam masyarakat, yang telah dimanfaatkan dengan baik oleh para konseli terdahulu, 2) informasi yang memberikan kesempatan pada konselor sekolah untuk mengukur dan menilai pengalaman-pengalaman konseli terdahulu yang diperolehnya di sekolah yang bersangkutan.
Untuk melakukan kegiatan studi lanjut dapat mempergunakan berbagai teknk, terutama teknk angket, wawancara, observasi dan test yang terstandart. Penggunaan teknik-teknik ini hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan konseli berdasarkan hasil instrument pengumpulan data.

c.      Penilaian terhadap program bimbingan

Hal yang perlu dinilai dalam program bimbingan dan konseling di sekolah adalah apakah pelayanan program bimbingan dan konseling di sekolah mempunyai manfaat yang konkrit bagi kehidupan konseli dalam masyarakat ?. Evaluasi semacam ini sangat sulit untuk dilaksanakan oleh konselor sekolah, karena belum ada secara khusus  untuk menentukan keriteria keberhasilannya. Oleh karena itu penilaian diarahkan kepada kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling yang telah dilakukan dalam rangka penataan program bimbingan dan konseling kedepan yang berpusat pada kebutuhan konseli di sekolah yang brsangkutan. Terkait dengan akuntabilitas program bimbingan dan konseling di sekolah evaluasi program bimbingan dilakukan bersama-sama dengan pihak lain antara lain ;

1)        Penilain oleh guru

Prosedur ini dimaksudkan untuk meminta imformasi  guru sebagai pembelajar di ruang kelas tentang perubahan perilaku konseli yang telah difasilitasi konselor dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Temasuk dalam hal ini informasi prestasi belajar konseli.

2)        Eksperimen dengan kelompok tunggal

Prosedur ini dilakukan dengan menghilangkan kelompok control, dan penggantinya dengan penilaian terhadap kelompok yang sama.

3)        Penilaian oleh Konseli

Prosedur yang sederhana ini adalah dengan mengumpulkan pendapat kepada konseli yang telah mendapat pelayanan bimbingan mengenai kegunaan dan manfaat dari pada pelayanan bimbingan yang diteimanya.Dalam hal ini perlu dikatahui bahwa  penilaian konseli lebih cendrung bersifat emosional dari pada rasional, dan lebih bersifat subyektif. Tentunya ini akan sangat mempengaruhi penilaian yang diberikannya.

4)        Penilaian oleh para ahli

Prosedur ini dilakukan dengan meminta kepada para ahli bimbingan yang tidak ikut serta dalam memberikan pelayanan bimbingan di sekolah yang bersangkutan, untuk memberikan penilaian tentang pelaksanaan program bimbingan. Proedur ini menuntut nformasi yang lengkap yang hrus diberikan kepada para ahli tersebut untuk menentukan penilaiannya. Kekurangan atau kesalahan informasi yang diberikan akan mengakibatkan kkurangan dan kesalahan dalam penilaian para ahli.

5)        Penilaian oleh diri konselor

Prosedur ini pada dasarnya sama dengan penilaian oleh para ahli. Dalam hal ini konselor dianggap sebagai ahli, akan tetapi  ahli yang turut mengambil bagian di dalam penyelenggaraan program bimbingan di sekolah yang bersangkutan. Dengan demikian faktor subyektif kurang dapat dihindarkan, tetapi informasi dapat terkumpul lebih memadai dan lebih dapat diprcaya.

6)        Penilaian oleh orang tua

Prosedur ini dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan para orang tua konseli. Diharapkan para orang tua lebih proaktif dalam menelaah pekembangan konseli di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian proses bimbingan konseling terhadap konseli tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama memungkinkan terjadinya saling member informasi dan tukar pikiran bagaimana mengembangkan  potensi konseli atau memecahkan masalah yang dihadapi oleh konseli. Upaya kerjasama dengan orang tua dapat dilakukan dengan bebrapa cara seperti; 1) Konselor sekolah mngirim surat panggilan orang tua ke sekolah untuk tukar informasi tentang perkembangan konseli, 2)  Konselor sekolah menyampaikan informasi melalui surat ke orang tua tentang kemajuan belajar atau masalah yang dihadapi konseli, 3) konselor melakukan kunjungan rumah untuk memproleh infomasi langsung, atau melihat secara lagsung perkembangn konseli, dan bersama-sama mengambil langkah-langkah positif terhadap pemecahan masalah yang dihadapi konseli. Kegiatan kunjungan rumah khusus diperuntukkan pada konseli yang ekstrim.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar